Pages

Subscribe:

Senin, 13 Januari 2014

[MAKALAH] GIZI ZAT BESI

Zat besi mempunyai peranan atau manfaat yangpenting dalam pengangkutan
oksigen dari paru-paru ke tisu. Zat besi bergabung dengan oksigen di dalam
paru-paru dan melepaskan oksigen dalam tisu-tisu yang memerlukan.
 
Manfaat zat besi bagi tubuh :
1.Digunakan dalam pembuatan hemoglobin dan mioglobin.
2.Dapat mencegah anemia
3.Menormalkan imuniti
4.Meningkatkan kekebalan tubuh
5.Dapat menyembuhkan kerontokanZat besi (Fe) terdapat dalam bahan makanan hewani, 
  kacang-kacangan, dan sayuran berwarna hijau tua. Pemenuhan Fe oleh tubuh memang 
  sering dialami sebab rendahnya tingkat penyerapan Fe di dalam tubuh, 
  terutama dari sumber Fe nabati yang hanya diserap 1-2%.
 
Penyerapan Fe asal bahan makanan hewani dapat mencapai 10-20%. Fe bahan 
makanan hewani (heme) lebih mudah diserap daripada Fe nabati (non heme).
Sumber terbaik zat besi berasaska makanan ialah hati, tiram,  kerang, 
buah pinggang, daging tanpa lemak, ayam/itik dan ikan. Kacang dan sayur 
yang dikeringkan adalah sumber iron yang baik daripada tumbuh

untuk membaca makalah ini lebih lanjut.... >>
Click Here [Klik Disini]

PREVALENSI ANEMIA DAN TINGKAT KECUKUPAN ZAT BESI PADA ANAK SEKOLAH DASAR DIDESA MINAESA

Masalah gizi masyarakat yang utama di Indonesia masih didominasi oleh masalah gizi kurang energy protein (KEP), masalah gangguan akibat kurangnya yodium (GAKI), masalah kurangnya Vitamin A (KVA), dan masalah anemia gizi (Supariasa dkk, 2000). Zat gizi yang paling berperan dalam proses terjadinya anemia gizi adalah zat besi. Defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia gizi disbanding defisiensi zat gizi lain seperti asam folat, Vitamin B 12, Vitamin C dan trace elements lainnya (Wirakusumah, 1998).
Anemia yang paling umum ditemukan pada masyarakat adalah anemia defisiensi besi. Diperkirakan 25 % dari penduduk dunia atau setara dengan 3,5 milyar orang menderita anemia (Urtula dan Triasih, 2005). Estimasi prevalensi secara global sekitar 51 %, dimana penyakit ini cenderung ber langsung pada negara yang sedang berkembang daripada negara yang telah maju. Terdapat 36 % dari perkiraan populasi 3.800 juta orang di negara yang sedang berkembang menderita anemia jenis ini, sedangkan prevalensi anemia di negara maju hanya sekitar 8 % da ri perkiraan populasi dari 1.200 juta orang (DeMaeyer, 1995).
 
Di Indonesia, anemia gizi yang disebabkan oleh kekurangan zat besi masih merupakan masalah yang paling sulit untuk ditanggulangi. Salah satu kelompok yang rentan gizi terutama yang rawan anemia karena defisiensi besi adalah kelompok anak sekolah, dimana angka prevalensi anemia pada kelompok ini masih tinggi dan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat (Dep.Kes, 1995; Notoatmodjo,2003).
 
Secara global prevalensi anemia untuk anak usia sekolah masih menunjukkan angka yang tinggi yaitu 37 % (Arisman, 2004). Tahun 1980-an prevalensi anemia untuk anak sekolah berkisar 25-35 % . Tahun 1992 prevalensi anemia pada anak usia sekolah 24- 35 %, tahun 1995 melalui Survei Kesehatan Rumah Tangga menunjukkan prevalensi anemia pada anak sekolah dengna jenis laki-laki 46,6 % dan anak perempuan 48 %. Tahun 1997 prevalensi anemia pada anak dengan kelompok tingkat sosial ekonomi rendah yang memiliki status gizi baik 47-64 % sedangkan untuk anak dengan masalah KEP 38 -76%, dan anakdengan kelompok status sosial ekonomi menengah keatas prevalensi anemia sebesar 20 % (Soemantri, 2005 ). Tahun 2000 prevalensi anemia pada anak-anak sekolah dasar di Jakarta menunjukkan angka 35 % sedangkan tahun 2001 prevalensi tersebut naik yaitu 49,5% (Kompas, 2000)


untuk membaca teks asli, silahkan..  silahkan klik dan baca disini.  <<

ASCARIASIS DAN TRICHURIASIS SEBAGAI FAKTOR PENENTU KEJADIAN ANEMIA GIZI BESI

Di Indonesia, masalah anemia kekurangan besi merupakan salah satu masalah gizi utama, disamping masalah kekurangan energi protein (KEP), gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY), dan kekurangan vitamin A (KVA). Menurut data Depkes, total penderita anemia pada tahun 2000 mencapai 100.296.688 penduduk (Soekirman, 2003). Anak usia sekolah merupakan salah satu kelompok yang banyak ditemukan menderita masalah gizi tersebut, disamping ibu hamil dan anak-anak prasekolah.
 
Berdasarkan Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, prevalensi anemia pada anak  sekolah mencapai 47,3%, yaitu 46,4% pada anak laki-laki dan 48% pada anak perempuan  (Thaha A.R.,dkk,1999). Beberapa hasil studi diSulawesi Selatan menunjukkan bahwa angka anemia pada anak sekolah di Maros mencapai 44,6% pada murid laki-laki dan 55,4% pada murid perempuan (Haryati, 2001). Di Kabupaten Bantaeng, jumlahnya mencapai 49,36% pada murid laki-laki dan 51,56% pada murid perempuan (WindiarsoA., 2000), dan pada tahun 2003 yang menderita anemia pada anak sekolah adalah 45% dan 55% masing-masing pada murid laki-laki dan perempuan (Fanny L, 2003), sedangkan untuk Kota Makassar mencapai 38,5% (Hadju,1997).
 
Departemen Kesehatan menetapkan Cut of Point prevalensi anemia pada anak sekolah sebagai batas masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yaitu > 15% (Depkes RI, 1996). Prevalensi anemia mencapai 40% maka tergolong masalah berat, prevalensi 10-39% tergolong sedang dan kurang dari 10% tergolong masalah ringan (WHO,2000). Dengan demikian, masalah anemia pada anak sekolah di Sulawesi Selatan tergolong berat. Hal ini perlu mendapat perhatian yang serius mengingat dampaknya yang dapat mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh (Saloojee H, 2001), meningkatnya morbiditas akibat penyakit infeksi (Sungthon, 2001), terdapatnya gangguan perkembangan dan koordinasi alat gerak pada bayi dan anak-anak, terhambatnya kemajuan belajar dan berbahasa, menurunnya kapasitas kerja  (Kornelia B.S, 1999), dan gangguan perkembangan tingkah laku dan kognitif 
(Saloojee H,2001; Grantham,2003).  
 
untuk melihat naskah aslinya  >> Download disini yaa...

Anemia Gizi Besi

Anemia gizi besi adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan cadangan besi dalam hati, sehingga jumlah hemoglobin darah menurun dibawah normal. Sebelum terjadi anemia gizi besi, diawali lebih dulu dengan keadaan kurang gizi besi (KGB). Apabila cadangan besi dalam hati menurun tetapi belum parah, dan jumlah hemoglobin masih normal, maka seseorang dikatakan mengalami kurang gizi besi saja (tidak disertai anemia gizi besi). Keadaan kurang gizi besi yang berlanjut dan semakin parah akan mengakibatkan anemia gizi besi, dimana tubuh tidak lagi mempunyai cukup zat besi untuk membentuk hemoglobin yang diperlukan dalam sel-sel darah yang baru (Soekirman,2000).
 
Terdapat beberapa parameter untuk mengukur proses terjadinya pentahapan dari kurang gizi besi ke anemia gizi besi. Untuk mengetahui adanya penurunan atau deplesi cadangan besi tingkat ringan diukur dengan kadar feritin dalam serum darah yang menurun. Pada tahap berikutnya dapat terjadi deplesi besi yang lebih parah sehingga dapat mengganggu pembentukan hemoglobin baru, tetapi kadar hemoglobin masih normal, dimana pada tahap ini diukur dengan menurunnya transferin saturation dan meningkatnya erythrocyte protoporphyrin. Tahap berikutnya terjadi anemia gizi besi yang diukur dengan kadar hemoglobin atau hematokrit yang lebih rendah dari standar normal WHO (Soekirman, 2000).
 
Batasan hemoglobin untuk menentukan apakah seseorang terkena anemia gizi
besi atau tidak sangat dipengaruhi oleh umur. Untuk anak-anak umur 6 bulan-5 tahun,
 Universitas Sumatera Utara dapat dikatakan menderita anemia gizi besi apabila kadar 
hemoglobinnya kurang dari 11 g/dl, umur 6-14 tahun kurang dari 12 g/dl, dewasa laki-laki kurang dari 13 g/dl, dewasa perempuan tidak hamil kurang dari 12 g/dl, dan dewasa perempuan hamil kurang dari 11 g/dl (Soekirman, 2000).

Luasan Masalah Anemia Gizi Besi 
 
Iron Deficiency Anemia (IDA) atau lebih dikenal dengan sebutan anemia gizi besi 
 merupakan salah satu masalah gizi yang penting di Indonesia. Masalah anemia gizi besi
ini tidak hanya dijumpai dikalangan rawan seperti anak-anak, ibu hamil, dan ibu  yang sedang
menyusui, tetapi juga diantara orang dewasa terutama golongan karyawan dengan
penghasilan rendah (Djojosoebagio,etal. 1986). 
 
Menurut De Maeyer dan Adielstegman (1985) dalam Ross dan Horton (1998), pada tahun 1985, 
sekitar 30 persen penduduk dunia (1.3 milyar) menderita anemia gizi besi.
Menurut Komite Nasional PBB Bidang Pangan dan Pertanian (1992),berdasarkan hasil-hasil penelitian
di beberapa tempat di Indonesia pada tahun 1980-an menunjukan bahwa prevalensi anemia 
pada wanita dewasa tidak hamil berkisar 30-40%, pada wanita hamil 50-70%, anak balita 30-40%, 
anak sekolah 25-35%, pria dewasa 20-30% dan pekerja berpenghasilan rendah 30-40 %.
 
Sedangkan menurut Soekirman et al. (2003) menyatakan bahwa prevalensi anemia gizi besi mengalami
penurunan dari 50,9 % pada tahun 1995 menjadi 40% pada tahun 2001. Begitupun pada wanita
usia 14-44 tahun mengalami penurunan dari 39,5% pada tahun 1995 menjadi 27,9% pada tahun 2001. 
 
untuk membaca lebih lengkap, silahkan...  Baca Disini okayy :)

ANEMIA DEFISIENSI BESI

Anemia defisiensi besi merupakan anemia yang terbanyak baik di Negara maju maupun Negara yang sedang berkembang. Padahal besi merupakan suatu unsur terbanyak pada lapisan kulit bumi, akan
tetapi defisiensi besi merupakan penyebab anemia yang tersering. Hal ini disebabkan tubuh manusia mempunyai kemampuan terbatas untuk menyerap besi dan seringkali tubuh mengalami kehilangan besi yang berlebihan yang diakibatkan perdarahan. (Hoffbrand.AV, etal, 2005, hal.25 -34)
 
Besi merupakan bagian dari molekul Hemoglobin, dengan berkurangnya besi maka sintesa hemoglobin akan berkurang dan mengakibatkan kadar hemoglobin akan turun. Hemoglobin merupakan unsur yang sangat vital bagi tubuh manusia, karena kadar hemoglobin yang rendah mempengaruhi kemampuan menghantarkan Oksigen yang sangat dibutuhkan oleh
seluruh jaringan tubuh. Anemia defisiensi besi ini dapat diderita oleh bayi, anak-anak, bahkan orang dewasa baik pria maupun wanita, dimana banyak hal yang dapat mendasari terjadinya anemia defisiensi besi.
 
Dampak dari anemia defisiensi besi ini sangat luas, antara lain terjadi perubahan epitel, gangguan pertumbuhan jika terjadi pada anak-anak, kurangnya konsentrasi pada anak yang mengakibatkan prestasi disekolahnya menurun, penurunan kemampuan kerja bagi para pekerja sehingga produktivitasnya menurun.
 Kebutuhan besi yang dibutuhkan setiap harinya untuk menggantikan zat besi yang hilang dari tubuh dan untuk pertumbuhan ini bervariasi, tergantung dari umur, jenis kelamin. Kebutuhan meningkat pada bayi, remaja, wanita hamil, menyusui serta wanita menstruasi. Oleh karena itu kelompok tersebut sangat mungkin menderita defisiensi besi jika terdapat kehilangan besi yang disebabkan hal lain maupun kurangnya intake besi dalam jangka panjang.(Hoffbrand AV, et al, 2005,hal 25-34).
 
 untuk membaca lebih lanjut...silahkan  Download Disini <<<
 

Anemia gizi besi

Anemia gizi yang disebabkan kekurangan zat besi masih merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia. Berdasarkan data Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, prevalensi anemia gizi pada wanita berusia 15-44 tahun antara 30,9–48, 9%, sedangkan data dari Direktorat Bina Gizi Masyarakat pada tahun 1997 menunjukkan prevalensi anemia pada pekerja wanita usia produktif yang berpenghasilan rendah berkisar antara 30-40% (DepKes. RI, 1998).
 
Era industrialisasi saat ini dan masa mendatang memerlukan dukungan pekerja yang sehat dan produktif. Jumlah pekerja wanita di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Menurut Biro Pusat Statistik Jakarta tahun 2001, jumlah wanita yang bekerja, naik empat kali lipat selama enam tahun terakhir dari 8.365.655 jiwa menjadi 33.908.174 jiwa.
 
Salah satu masalah kesehatan yang dihadapi tenaga kerja wanita adalah anemia defisiensi gizi, masalah ini berdampak terhadap kematian ibu dan anak, serta rendahnya prestasi dan menurunnya produktivitas kerja. Disamping itu, tenaga kerja wanita mempunyai fungsi ganda yaitu fungsi sosial sebagai tenaga kerja wanita dan ibu rumah tangga yang dapat memberi warna pada kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsanya, juga mempunyai fungsi reproduksi sesuai dengan kodratnya, harus mengalami haid, kehamilan, melahirkan, menyusui anaknya, yang sangat besar peranannya dalam menciptakan generasi penerus bangsa (Scholz, dkk, 1997
 
 untuk membaca lebih lanjut...
silahkan >> Baca Disinii .,.,

Anemia

Dikenal sebagai “kurang darah”
Adalah suatu keadaan dimana jumlah Hemoglobin dalam darah kurang dari normal. Zat ini  dibuat di dalam sel darah merah, sehingga Anemia dapat terjadi baik karena sel darah merah mengandung terlalu sedikit hemoglobin maupun karena jumlah sel darah yang tidak cukup.
 
Sel-sel darah merah membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan-jaringan dan
mengangkut Karbondioksida dari jaringan-jaringan ke paru-paru.
Setiap keadaan yang mengurangi kemampuan membawa oksigen dari sel-sel darah
merah akan mengurangi pemasokan oksigen ke jaringan-jaringan termasuk otak dan
otot.
Gejala akan mencakup kelesuan, konsentrasi yang buruk dan kelemahan
 
Anemia Gizi Besi Anemia karena kekurangan zat besi di dalam tubuh.
 

 untuk naskah aslinya silahkan Lihat Disini..!!  :)

Glitter Words